Rabu, Desember 17, 2008

I have a new blog

· 1 comments

Hi guys....thank you very much...
You have to visit me at this blog : http://fahrisalakbar.blogspot.com

If you want to know other information about me, please feel free to visit me at my new blog : http://fahrisalakbar.blog.ugm.ac.id/ and http://fahrisalakbar.wordpress.com

Thank's....

Read More......

Fahrisal Akbar

· 0 comments

















Fahrisal Akbar

Health Master's Program

Department of Health Management and Information System

Faculty of Medicine. Gadjah Mada University. Yogyakarta - Indonesia.

Yahoo Messenger : fahrisal.akbar
Email : fahrisalakbar@gmail.com
Website : http://fahrisalakbar.web.ugm.ac.id
Blog :
  • http://fahrisalakbar.blog.ugm.ac.id
  • http://fahrisalakbar.blogspot.com
  • http://fahrisalakbar.wordpress.com
Search Engine ( Key Word ) : Fahrisal Akbar

Read More......

Tentang Aku

· 2 comments

Fahrisal Akbar, demikianlah nama lengkapku. Teman- teman sering memanggilku dengan sebutan Akbar. Aku lahir di Provinsi Jawa Timur yaitu dikota Surabaya tepatnya pada tanggal 8 Mei. Pada saat yang bersamaan, Mantan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagant berkunjung ke Indonesia untuk bertemu dengan Presiden Republik Indonesia yaitu H. Muhammad Soeharto untuk bersilaturrahmi serta membicarakan tentang hubungan bilateral antara kedua belah pihak. Pada saat mantan orang nomor satu di Amerika Serikat tersebut sampai di Bandara Soekarno- Hatta Cengkareng, ayahku yang menjabat sebagai anggota TNI pada saat itu yang bertugas di Lanud Marinir ( LANMAR) Surabaya, mengawal Ronald Reagant menuju Istana Negara untuk bertemu dengan Presiden Soeharto. Maka setelah ayahku melaksanakan tugas negara tersebut, beliau mendapat kabar bahwa anak pertamanya telah lahir dengan selamat di Rumah Sakit Adi Husada Surabaya. Tanpa pikir panjang ayahku langsung berangkat menuju ke Rumah Sakit dan menggendongku setibanya disana. Pada saat itu nenekku bertanya kepada ayahku , “ Soe nan aneuk nyoe, ta boh le gata manteung“.( Bahasa Aceh ). “Siapa nama anak ini, anda saja yang memberikannya”. ( Bahasa Indonesia). Maka dengan mantap ayahku langsung menjawab : REGEN.... Nah, sejak itulah nama panggilanku adalah Regen dan keluargaku memanggilku dengan sebutan tersebut.


Di Surabaya, aku tinggal di Tambak Sari dan disanalah aku mulai tumbuh dan berkembang bersama dengan anak- anak lainnya. Setelah umurku 5 tahun, aku dimasukkan ke salah satu TK agar dapat belajar dan bermain dengan teman- temanku. Tak lama aku belajar dan bermain bersama dengan teman- temanku, Ibuku pindah ke Aceh karena disanalah beliau melaksanakan tugasnya selaku PNS ( Guru SD Negeri Cot Seurani ). Dalam kepindahan ke Aceh tersebut, ibuku membawaku bersamanya dan ayahku tinggal sendirian di Surabaya karena beliau tidak mungkin meninggalkan tugasnya di Lanud Marinir ( LANMAR) Surabaya.


Setibanya aku di Aceh, aku langsung di masukkan ke SD Cot Seurani dan duduk dikelas 1, kebetulannya lagi ibuku sendiri yang menjabat sebagai wali kelas. Pada saat itu SD Cot Seurani masih di Kepalai oleh Bapak Sofyan. US dan beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan beliau di Gedung Sosial Banda Aceh. Aku sangat senang sekali dan aku langsung menyapanya. Yang membuat aku lebih senangnya, beliau masih ingat denganku sebagai murid yang paling pintar dan gendut diantara seluruh murid yang ada pada saat itu.


Kembali pada cerita sebelumnya. Ketika itu, aku masih sangat kecil sekali sehingga banyak teman- temanku yang lain meledekku. Namun aku tak perduli dengan apa yang mereka lakukan padaku. Pada akhir CAWU aku tidak naik kelas, aku sangat sedih sekali dan menangis dengan sangat keras dihadapan ibuku. Aku bertanya pada ibuku, kenapa aku tidak naik kelas. Lalu dengan nada senyum ibuku menjawab : “Umurmu masih sangat kecil, Ibu takut nanti dikelas 2 kamu tidak akan bisa mencerna dengan baik seluruh mata pelajaran. Otak kamu masih belum mampu untuk menampungnya” . Demikian ibuku memberi penjelasan dan seketika itu juga aku terdiam dari tangisanku. Aku mencoba berfikir, ada benarnya juga perkataan ibuku, sapa tau yang dikataknnya itu benar. Itulah pikiranku pada saat itu. Pada tahun selanjutnya aku naik ke kelas 2 dengan mendapatkan rangking 1 dan pada tahun- tahun berikutnya aku tetap naik kelas dan mendapatkan rangking 3 besar sampai ke kelas 6. Aku masih ingat, pada saat itu sainganku adalah : Rita Zahara, Nora dan Hafni Jayanti. Mereka bertiga merupakan lawan terberatku ketika aku masih duduk di bangku SD.


Enam tahun sudah aku duduk di bangku SD, kemudian aku melanjutkan pendidikanku dengan masuk ke salah satu Pesantren Modern yang ada di Lhokseumawe. Tidak lebih dari 5 hari 4 malam aku tinggal disana. Aku langsung lari dari Pesantren tersebut setelah shalat Subuh. Jujur aja, aku tidak tahan dengan servis yang diberikan. Pernah aku kelaparan hanya karena mengantri sepiring nasi pada sebuah pondok dan aku harus melewati beratus santri lainnya. Masih ter- save dengan baik sekali dalam ingatanku, karena sangking panjangnya antrian dimana terdapat beratus santri, aku mendapat antrian di bagian luar. Aku mengantri untuk mendapatkan sepiring nasi dalam keadaan hujan sehingga bajuku basah dan piringku dipenuhi oleh air hujan, belum lagi hawa lapar yang menyerang perutku. Pada saat itu terlintas kalimat dalam benakku : “ Ketika di rumah, aku dapat menanak nasi hangat langsung dari COSMOS, sedangkan disini aku harus mengantri dan hampir mati kelaparan “. Itulah kalimat yang selalu membayang- bayangi pikiranku sampai aku benar- benar mendapat giliran untuk menanak nasi di atas meja. Belum lagi aku memakan nasi yang ada dalam piringku itu, sekarang aku tidak kebagian tempat duduk dan meja karena telah dipenuhi oleh santri yang sebelumnya telah mengantri. Pikiranku semakin menjadi- jadi : “ Ketika dulu dirumah, aku dapat dengan santai menikmati makananku di depan TV sambil menonton acara kesukaanku yaitu : CRAYON SINCHAN, namun disini tempat duduk saja aku tidak ada”. Kemudian air mataku mulai berlinang dan santri lain memandangku dengan rasa acuh tak acuh. Tanpa pikir panjang, aku menggelar kedua belah sandal swallow- ku ditanah dan langsung duduk diatasnya sambil menyilangkan kedua belah kakiku. Waktu makan malam hanya tinggal 2 menit lagi dan aku langsung menyantap nasi hangat yang ada pada piringku itu dengan cepat dan lahap. Karena jika telah lewat batas waktu yang telah ditentukan aku tidak menghabiskan makan malamku itu, maka aku akan terlambat untuk mengikuti Shalat Insya berjama’ah dan jika terlambat mengikuti Shalat berjama’ah, aku akan kena hukuman dari Ustadz. Itulah salah satu alasanku untuk meninggalkan Pesantren tersebut. Mungkin kalau di pikir agak konyol seh...


Dengan keadaan geografis yang letaknya di atas gunung, dimana hanya hutan belantara dan rimba raya disekitarnya, aku memberanikan diri untuk melarikan diri dengan menelusuri jalan setapak dalam keadaan cuaca yang masih gelap dan hawa udara masih sangat dingin. Sesampai di jalan raya Medan- Banda Aceh, aku langsung naik BE ( Bireuen Expres) dan turun di Kruenggeukueh tempat Nyakwa ku. Pada saat itu aku tak punya keinginan untuk pulang kerumah, takut dimarahi oleh orang tuaku. Namun keesokan harinya, orang tuaku tahu dan langsung menjemputku. Kemudian aku dimasukkan ke SLTP Negeri 9 Lhokeumawe.


Disanalah aku mulai melanjutkan prestasiku yang sebelumnya telah kacau balau hanya karena keinginanku tidak kesampaian di Pesantren. Karena terlambat mendaftar di SLTP Negeri 9 Lhokseumawe, aku ditempatkan di kelas 1/5. Kelas tersebut merupakan kumpulan siswa/ i yang nilai NEM nya sangat rendah.Pada saat itu nilai NEM- ku cukup tinggi sehingga dengan gampang aku bisa dimasukkan ke kelas Inti. Namun karena keterlambatanku dalam mendaftar, maka tidak ada lagi kursi sehingga aku ditempatkan di Kelas 1/5 yang masih memiliki bangku kosong. Walaupun aku duduk di Kelas 1/5, aku tidak patah semangat dalam belajar. Terbukti aku mendapatkan peringat pertama selama 3 CAWU berturut- turut. Bahkan aku mampu mengalahkan point ( nilai ) tertinggi anak kelas Inti ( 1/ 1) yang mendapatkan rangking I pada saat itu. Karena nilai anak kelas 1/5 lebih tinggi ketimbang anak kelas 1 Inti. Wali kelas 1 Inti sempat marah kepada seluruh siswanya. Hal tersebut membuat aku semakin semangat dan giat dalam belajar.


Setelah tamat dari Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, aku langsung melanjutkan pendidikanku ke jenjang selanjutnya yaitu dengan mendaftar di SLTA Negeri 2 Lhokseumawe ( Pada saat ini namaya telah diganti menjadi SMA Negeri 1 Dewantara ). Sekolahku terletak di Kruenggeukueh tepatnya di Paloh Lada ( Labih di kenal dengan sebutan PALDA ). Aku mendaftar di kelas UNGGUL dan aku harus mengikuti ujian seleksi agar dapat di terima dikelas UNGGUL tersebut. Alhamdulillah aku lulus dan aku langsung diterima di kelas paling bergengsi tersebut. Selama 3 tahun aku dapat bertahan dikelas UNGGUL ( Mulai dari 1 Unggul, 2 Unggul dan 3 Unggul ). Aku menyadari lawanku saat itu sungguh sangat berat, sehingga aku tidak pernah lagi mendapatkan rangking 3 besar. Ketika itu, hari- hariku sungguh sangat berat. Selaku anak Unggul, aku dituntut untuk belajar lebih keras dan bukannya untuk bermain- main. Masa remajaku selalu dibayang- bayangi oleh berbagai macam buku ditanganku, mulai dari buku Matematika, Kimia, Fisika, Biologi, Bahasa Inggris, Karya Ilmiah Remaja dan lain sebagainya. Jujur, aku tidak punya kesempatan lagi untuk bermain- main lagi bersama dengan teman- temanku. Kata orang sih...” masa remaja merupakan masa yang paling indah dalam hidup ini dan harus di nikmati sepunuhnya “. Mungkin kalimat tersebut tidak berlaku bagiku dan tidak tercatat didalam kamusku. Setiap pagi aku berangkat jam 07.00 WIB menuju sekolah dan pulang jam 18.15 WIB. Pada saat itu, khusus anak- anak Unggul tidak diperbolehkan pulang pada siang hari karena ada mata pelajaran tambahan sampai sore hari. Ketika Mangrib telah tiba aku langsung menuju tempat pengajian yaitu di Dayah Raudhatul Yatama ( tepatnya di Desa Keude Bungkaih. Kecamatan Muara Batu. Kabupaten Aceh Utara. Naggroe Aceh Darussalam- Indonesia), dimana pada saat itu masih dipimpin oleh Almarhum Tgk. Abdul Jalil Bin Yahya. Namun karena keadan beliau sedang sakit maka digantikan oleh salah seorang anak laki- lakinya yaitu : Tgk. Ruslan Bin Tgk. Abdul Jalil. Aku mengaji sampai pukul 22.00 WIB dan setelah Shalat Insya berjamaah baru diperbolehkan pulang kerumah masing- masing. Sesampai dirumah aku langsung makan malam dan mengerjakan tugas sekolah yang harus dikumpulkan besok pagi sehingga aku harus bergadang sampai jam 2 malam untuk menyelasaikannya. Di Dayah Raudhatul Yatama, aku duduk dikelas Tajhiziah Saniah (Tajhiziah Saniah merupakan kelas paling tinggi diantara kelas-kelas yang ada ). Merupakan suatu kebanggan yang tidk terkira aku dapat duduk dikelas paling bergengsi tersebut. Aku mengaji dan menimba ilmu agama di sana dan alhamdulillah aku mendapatkan rangking yang sangat baik yaitu 3 besar. Dikelas Tajhiziah Saniah, saingan terberatku adalah Cut Murzianti, Yuna Rahmasari, dan Fitriyanti. Mereka bertiga merupakan lawan yang patut aku perhitungkan dalam berlomba- lomba untuk memperoleh prestasi dalam belajar mengaji. Karena prestasiku dalam bidang pengajian, aku dipercaya untuk mengajar ngaji adik- adik yang berada dibawah tingkatanku. Malahan aku dipercaya untuk menjadi wali kelas Tajhiziah Ula ( Kelas paling dasar diantara kelas- kelas yang ada ). Di Dayah Raudhatul Yatama- lah aku mendapatkan berbagai macam ilmu agama dimana sampai saat ini masih aku aplikasikan dalam kehidupanku sehari- hari. Aku masih ingat, sebelum aku berangkat ke Banda Aceh untuk melanjutkan study S1, pada malam harinya aku memohon izin kepada Tgk. Ruslan Bin Tgk Abdul Jalil dimana pada saat itu juga menerima Rapor terkhirku di Dayah Raudhatul Yatama yang diserahkan langsung oleh Tgk. Ruslan Bin Tgk. Abdul Jalil. Sungguh diluar dugaan, aku mendapatkan juara umum dan aku dihadiahkan sebuah Al- Qur'an yang sungguh indah. Aku merasa sangat senang sekali bahkan air matakupun menetes di lantai karena terharu. Begitulah perjalanan hidupku ketika masih remaja dimana aku merasa bahwa kehidupanku itu tidak seperti anak- anak yang lain pada umumnya.


Setelah menamatkan study di High School, aku langsung berangkat ke Banda Aceh untuk melanjutkan pendidikanku kejenjang yang lebih tinggi. Pada saat itu, setiap siswa yang baru selesai menamatkan study di high school harus mengikuti SPMB ( Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) yang dilaksanakan selama 2 hari berturut- turut, agar dapat diterima di Universitas Negeri. Sebelum ikut ujian SPMB, aku mengikuti bimbingan belajar terlebih dahulu. Persipanku pada saat itu benar- benar telah mantap, sehingga aku tidak tanggung- tanggung untuk memilih 2 Fakultas Favorit yang di Unggulkan yaitu : Fakultas Kedokteran UNSYIAH dan Fakultas Kedokteran USU. Aku yakin sekali akan Passing Gread- ku akan mencapai point- level atas, hal ini terbukti dengan beberapa nilai Try Out- ku cukup tinggi di atas rata- rata.


Pada hari H- Nya, aku mengikuti ujian SPMB yang bertempat di Darussalam. Pada hari pertama aku berhasil menjawab 65 dari 75 soal yang disediakan. Sedangkan pada hari kedua aku hanya berhasil menjawab 60 soal dari 75 soal yang di sediakan. Aku masih ingat, ada seorang teman wanita yang tidak aku kenal meminta jawaban kepadaku, karena dia kurang mampu dalam menyelesaikan setiap soal yang diberikan. Selama 2 hari berturut- turut aku memberikan jawabanku seluruhnya kepada wanita tersebut dengan beranggapan bahwa, siapa tahu aku dapat membantunya dan dapat bersama- sama meraih impian kami masing- masing. Setelah mengikuti ujian pada hari terakhir dia mengucapkan banyak terima kasih kepadaku karena telah membantunya. Dalam hatiku berkata, “ mungkin ini yang dapat aku berikan kepadanya”. Kami berdua berpisah dan langsung pulang ke kediaman masing- masing.


Sebulan setelah ujian SPMB berlalu, tibalah saatnya pengumuman tentang siapa saja yang diterima di Universitas Negeri. Alangkah terkejutnya hatiku, ternyata katika aku melihat pengumuman di Biro UNSYIAH namaku tidak tercantum di papan pengumuman. Ternyata aku tidak lulus ujian pada saat itu. Yang membuat hatiku benar- banar hancur, teman wanita yang aku tolong ketika ujian SPMB tempo hari datang menyapaku sambil mengucapkan terima kasih sebanyak- banyaknya karena ia telah lulus di Fakultas Kedokteran UNSYIAH. Aku terdiam sejenak, lalu mengucapkan selamat kepadanya terus aku langsung pulang ke kediamanku. Sesampai dikamar, keluarlah air mataku secara berlahan- lahan. Dalam fikiranku terlintas : “ Sia- sia saja pengorbananku untuk bejalar selama ini, toh akhirnya aku tidak dapat kuliah di Fakultas Favoritku “. Namun aku memetik hikmah dari kejadian ini, mungkin ALLAH SWT berkehendak lain.


Aku tidak langsung putus asa, beberapa hari kemudian aku mendaftar di salah satu Universitas Swasta yang ada di Banda Aceh yaitu di Fakultas Kesehatan Masyarakat Univeritas Muhammadiyah Aceh. Alhamdulillah setelah mengikuti ujian seleksi aku diterima menjadi mahasiswa disana. Sejak saat itu aku mulai memacu semangatku dalam belajar namun entah mengapa semenjak memasuki semester 4 semangatku mulai menurun drastis. Aku mulai jarang membaca buku pelajaran dan lebih suka bermain internet- an. Disana aku mulai mempelajari banyak hal, mulai Browsing, Internating, Ngedownload berbagai macam Driver Komputer, Chatting dan lain sebgainya sampai aku membuat Website ini.


Singkat cerita, saat ini aku telah berumur 21 tahun dan sedang menamatkan study di Public Health Faculty Muhammamdiyah University of Aceh. Sekarang aku telah duduk disemester 7 dan baru selesai menerima KHS ( Kartu Hasil Study ). Alhamdulillah, IP ( Indeks Prestasi ) ku saat ini lumayan bagus mencapai 3,4 dimana dari 23 SKS yang aku ambil dengan 11 mata kuliah wajib aku berhasil mendapatkan nilai ( A ) sebanyak 8 buah, nilai ( B ) sebanyak 2 buah dan nilai ( C ) sebanyak 1 buah. Aku bersyukur banget karena sampai semester ini aku masih masih dapat mempertahankan Indeks Prestasiku.


Dikampus, aku tidak hanya berprestasi dalam belajar semata, tetapi aku juga berprestasi dalam mengolah data research. Tempo hari aku mendapatkan tawaran dari pihak Akademik untuk mengentry data penelitian milik American Red Cross ( Salah satu NGO yang melaksanakan program kerjanya pasca terjadinya peristiwa gempa bumi dan gelombang tsunami pada tahun 2004 lalu). Dari sekian banyak mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Aceh, hanya beberapa orang saja yang terpilih untuk melaksanakan tugas penting tersebut, yaitu : Aku, Farrah, Joe dan Idham. Namun sayangnya Idham tidak bisa karena sedang dilanda musibah ( kakaknya meninggal dunia ), sehingga dia harus cepat kembali ke kampungnya di Takengon. Hanya tinggal kami bertiga yang melaksanakan tugas entry data tersebut dan aku dapat menyelesaikan tugas tersebut dalam jangka waktu 2 minggu. Hal ini dikarenakan di Kota Banda Aceh sering dilakukannya pemadaman listrik oleh PLN sehingga tugas entry data penelitian yang mutlak harus menggunakan komputer ( Program SPSS. Versi 12 ) menjadi terhambat. Aku baru bisa mengetry data, jika listriknya telah hidup kembali, itupun hanya 4 jam listriknya ON dalam sehari, selebihnya OFF.


Saat aku membuat website ini, jarum jam dikamarku telah menunjukkan pukul 00.15 WIB. Namun itu tidak akan menurunkan semangatku dalam melanjutkan tulisanku ini.


Aku merupakan salah seorang anggota BEM ( Badan Eksekutif Mahasiswa ) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Aceh. Kalau dalam kalimat keren- nya adalah : BEM EF KA EM UNMUHA. He..... Aku dipercaya untuk menjabat sebagai Wakadis INFOKOM dan ISMKMI ( Wakil Kepala Dinas Informasi, Komunikasi dan Ikatan Senat Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Indonesia ). Dua bulan yang lalu aku dilantik dan diambil sumpah oleh Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Aceh yaitu : Bapak Drs. Fauzi Ali Amin, M. Kes, tepatnya di Aula KESPRO ( Aula Kesehatan Reproduksi ) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Aceh. Dalam pelantikan tersebut dihadiri oleh para Pembantu Dekan dan Kasubbag Kemahasiswaan diantaranya : Dr. H. Anwar Jakfar, MS, Drs. H. Ghazali Amin, MPH, Ibrahim Laweueng, MNSc. Namun Pak Eddy Azwar SKM, M. Kes tidak dapat hadir karena sedang berada di luar kota. Jujur aja, gua sangat bangga sekali dapat dilantik langsung oleh Dekan FKM- UNMUHA yaitu : Bapak Drs. H. Fauzi Ali Amin, M. Kes. Disamping rasa bangga yang tengah menyelimuti diriku, dilain pihak aku merasa sedang mengemban tugas yang sangat berat dipundakku dimana aku harus menjalankan tugas selaku Wakadis INFOKOM dan ISMKMI di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Aceh.


Beberapa hari yang lalu aku membaca koran di Serambi Indonesia, disana tertera bahwa ada penerimaan Scholarship S2 ke Australia bagi tamatan S1, S2 bahkan S3, dimana salah satu persyaratannya Point TOEFL- Nya minimal 450. Shcholarship tersebut hanya diperuntukkan bagi anak- anak Aceh yang ingin melanjutkan study ke jenjang yang lebih tinggi di Australia dan hanya dibatasi untuk 720 orang. Setelah membaca koran tersebut, aku semakin bersemangat dalam mempelajari Bahasa Inggris, bahkan Aku berdua sama Farrah telah mendaftar kelas Bahasa Inggris ( Lembaga Bahasa yang baru di buka di kampus). Kami mendaftar bersama- sama ke Asisten Dekan yaitu : Kak Farida Hanum, M. Si. Alangkah senangnya hatiku setelah mendaftar kelas Bahasa Inggris tersebut. Aku mengambil kelas TOEFL sedangkan Farrah mengambil kelas BASIC. Kami berdua telah bertekad agar bisa dalam menguasai Bahasa Inggris demi meraih Point TOEFL setinggi- tingginya sehingga kami mendapatkan scholarship ke Australia untuk tahun depan.

Saat ini aku sudah menyelesaikan studi di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Aceh ( FKM UNMUHA ) dengan Indeks Prestasi 3,92 dimana dari 23 SKS yang aku ambil pada semester 7 hanya 1 mata kuliah memiliki nilai B sedangkan yang lainnya memiliki nilai A semuanya. Aku sangat bersyukur sekali mendapatkan Indeks Prestasi dengan nilai 3, 92 dimana nilai tertinggi yang pernah kucapai selama kuliah di FKM UNMUHA dalam kurun waktu 3, 5 tahun. Lagi pula impianku selama ini adalah berusaha mendapatkan The Best of Highest Score at FKM UNMUHA dan mengalahkan Indeks Prestasi Farrah Fahdhienie dengan nilai 3,82 yang selama beberapa semester belakangan ini selalu mendominasi tangga IP peringkat tertinggi di FKM UNMUHA.

Aku baru saja menyesaikan Skripsi yang berjudul “ Hubungan Kepuasan Pasien Rawat Jalan Dengan Pelayanan Yang Diberikan Oleh Para Petugas Kesehatan Di Poli Umum Puskesmas Kajhu Kecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh Besar Tahun 2008”, dengan memperoleh predikat A.

Kegiatanku saat ini adalah memburu beasiswa S2 ke luar negeri khususnya pada negara- negara Eropa. Beberapa hari yang lalu Pak Asnawi Abdullah, SKM, MHSM, MSc. HPPF, DLSHTM pulang dari Monash University in Australia, beliau hanya 2 minggu berada di Nanggroe Aceh Darussalam. Pak Asnawi berkesempatan hadir di FKM UNMUHA untuk memberikan informasi mengenai cara memperoleh beasiswa S2 gratis ke Australia, UK, USA, ITALIA, BELANDA, JERMAN, RUSIA. Jujur, kesempatan itu tidak aku sia- siakan dan aku sangat tertarik sekali dengan informasi yang disampaikan oleh beliau. Dari sekian banyak beasiswa yang di tawarkan, nampaknya aku sangat tertarik sekali dengan Australian Development Scholarships ( ADS ). Sejak saat itu aku mulai mencari informasi lebih dalam lagi mengenai keberadaan beasiswa tersebut. Alhamdulillah dalam waktu singkat, aku sudah mendapatkan banyak informasi yang berhubungan dengan ADS. Tiap hari aku selalu menjelajahi dunia maya ( alias Internet ), hanya demi mendapatkan informasi mengenai ADS sebanyak mungkin. Sebagian uang makan bulanan – ku sisihkan untuk membeli pulsa Star One yang khusus digunakan untuk mengaktifkan Internet di Notebook kepunyaanku. Dalam beberapa hari kemudian aku sudah mendapatkan Form Application Australian Development Scholarships Tahun 2008 dengan cara mendowload di Internet. Keesokan harinya, aku memohon kepada Kak Farida Hanum, M. Si, untuk membimbing dan mengajariku dalam mengisi Form Application tersebut. Kak Farida Hanum, M. Si bersedia dan bahkan Drs. H. Fauzi Ali Amin, M. Kes ( Selaku Dekan FKM UNMUHA ) bersedia membimbingku dalam mengisi Form Application ADS tersebut. Drs. H. Fauzi Ali Amin, M. Kes, sangat mendukungku dalam melanjutkan Studi Ke Jenjang Strata 2 di Luar Negeri khususnya ke Australia. Aku sangat senang sekali Kak Farida Hanum, M. Si dapat membimbingku tahap demi tahap sehingga aku benar- benar mengerti isi dari Form Application yang dimaksud. Sampai akhirnya aku disuruh untuk membuat Outline Research mengenai permasalahan yang telah aku teliti sebelumnya dimana akan di attachment ketika pengiriman Form Application ke Kantor Pusat ADS di Jakarta. Adapun persyaratan yang harus di penuhi oleh pendaftar beasiswa S2 dan S3 ke Australia adalah sebagai berikut :

Persyaratan Umum :

Pendaftar beasiswa ADS harus:

* Berkewarganegaraan Indonesia dan tidak diperkenankan memiliki tempat tinggal tetap di Australia dan Selandia Baru;
* Tidak menikah atau bertunangan dengan orang yang berkewarganegaraan Australia atau Selandia Baru atau yang berstatus pemukim tetap;
* Memenuhi persyaratan pemerintah Australia bagi pendaftar siswa internasional di Australia (kesehatan, kepribadian, dll.);
* Tidak sedang menjalankan beasiswa yang lain yang dapat memberikan keuntungan ganda;
* Tidak sedang menjalankan beasiswa pemerintah Australia dalam waktu 12 bulan pada saat periode tahun pendaftaran;
* Mendaftar untuk menjalankan program studi yang baru dan tidak untuk mencari dukungan dana melalui program beasiswa ADS untuk program belajar yang sedang atau akan dijalankan di Australia (pendaftaran secara individu);
* Bersedia mengikuti program beasiswa di tahun yang ditawarkan; dan
* Memenuhi persyaratan untuk masuk ke institusi di Australia tempat program dilaksanakan.

Persyarakatan Spesifik :

Perdaftar Beasiswa ADS harus :

* Mendaftar pada bidang studi yang telah ditetapkan;
* Memiliki Indeks Prestasi Komulatif (IPK) minimal 2.9 (skala maksimal 4) dan IELTS 5.0 (Institusional TOEFL 500 atau Internasional TOEFL 170). Hasil nilai IELTS atau TOEFL harus yang terbaru (tes yang diikuti pada tahun 2007 atau 2008);
* Telah lulus kesarjanaan S1 jika berminat pada program Master (S2);
* Telah memiliki gelar Master jika berminat pada program Doktoral (S3);
* Mendaftar untuk tingkatan yang lebih tinggi dari tingkatan yang telah dimiliki saat ini;
* Jika mendaftar untuk program Doktoral (S3) , peserta harus berprofesi sebagai dosen universitas dan staff pengajar di lembaga pendidikan tinggi, peneliti / staf penelitian dari institusi lembaga penelitian yang resmi, dan pembuat kebijaksanaan baik instansi pemerintah maupun swasta;
* Menjawab seluruh pertanyaan yang berhubungan di dalam formulir aplikasi;
* Bersedia dan sanggup mengikuti secara penuh program pelatihan bahasa Inggris ( EAP ) di Indonesia dalam rangka persiapan untuk belajar di Australia jika telah diterima beasiswa; dan
* Berusia tidak lebih dari 42 tahun pada saat periode pendaftaran.

Pengiriman Dokumen Aplikasi :

Untuk melengkapi aplikasi, pendaftar diwajibkan untuk mengirimkan dokumen-dokumen sebagai berikut:

* 3 (tiga) rangkap fotokopi Akta Lahir / paspor / KTP
* 3 (tiga) rangkap fotokopi Ijasah S1 yang telah dilegalisir (cap asli) bagi pelamar program Master maupun Doktoral
* 3 (tiga) rangkap fotokopi Daftar Nilai / Transkrip S1 yang telah dilegalisir (cap asli) bagi pelamar program Master maupun Doktoral
* 3 (tiga) rangkap fotokopi Ijasah S2 yang telah dilegalisir (cap asli) bagi pelamar program Doktoral
* 3 (tiga) rangkap fotokopi Daftar Nilai / Transkrip S2 yang telah dilegalisir (cap asli) bagi pelamar program Doktoral
* 3 (tiga) rangkap fotokopi hasil IELTS atau TOEFL (selambat-lambatnya yang diambil pada tahun 2007 atau 2008)
* 3 (tiga) rangkap surat referensi dari pembimbing S2 bagi pelamar program Doktoral
* 3 (tiga) rangkap Proposal Riset (research outline) bagi pelamar Master (full research) dan Doktoral
* 3 (tiga) rangkap CV / Daftar Riwayat Hidup dalam bahasa Inggris.

Bagaimana cara mengirimkannya?

1. Mengajukan / mengirimkan 3 (tiga) rangkap formulir aplikasi yang telah terisi beserta dokumen yang diperlukan secara personal, melalui pos / kurir langsung ke kantor ADS
2. ADS akan mengirimkan pemberitahuan hasil seleksi kepada seluruh pelamar melalui surat tertulis.

Persiapan sebelum berangkat ke Australia, penerima beasiswa harus:

* Mencapai persyaratan minimal bahasa Inggris yang diminta oleh universitas yang dipilih (biasanya IELTS 6.5 dengan rata-rata nilai tidak kurang dari 6.0);
* Menerima sebuah Letter of Acceptance dari Universitas di Australia;
* Memenuhi persyaratan keimigrasian Australia untuk kepengurusan visa belajar;
* Menerima surat persetujuan dari pemerintah Indonesia berkenaan dengan program beasiswa yang hendak dilaksanakan di Australia;
* Tidak sedang hamil pada saat berangkat ke Australia untuk memulai belajar; dan
* Pada saat berakhirnya kursus EAP, calon siswa harus mencapai nilai minimum IELTS 6.0 untuk dapat melakukan proses pendaftaran / penempatan ke universitas di Australia.

Di Australia penerima beasiswa harus:

* Mematuhi kondisi dari beasiswa dan peraturan yang berlaku di institusi di Australia;
* Mematuhi peraturan dan persyaratan pemerintah mengenai visa belajar;
* Berperilaku yang tidak merugikan pihak AusAID, atau kepada institusi manapun di Australia ataupun pihak pemerintah Indonesia; dan
* Kembali ke tanah air setelah menyelesaikan program beasiswa di Australia.

Itulah beberapa hal yang harus aku penuhi jika aku ingin mendapatkan beasiswa ke Australia. Ada satu hal yang menjadi kendalaku saat ini dalam mendaftar Australian Development Scholarships ( ADS ), yaitu : aku belum memiliki Institusional Sertificate Toefl Test dengan Score 500 ataupun IELTS dengan Score 6,0 karena aku sedang mengikuti Les TOEFL di Lembaga Bahasa Universitas Syiah Kuala ( LB- UNSYIAH ).

Untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris, tempo hari aku telah membeli buku Structure dan TOEFL ( BARON ). Aku mempelajari isi yang terkandung didalam buku tersebut setiap hari dan mencoba mengetes kemampuan TOEFL di Notebook dengan menggunakan sebuah CD yang dilampirkan ketika aku membeli buku TOEFL ( BARON ). Dari hasil TOEFL TEST yang aku uji coba dirumah, aku dapat menarik kesimpulan bahwa aku harus Read Extensively, Read Challenging Material, Read Material Related to Topic Commanly Used in the TOEFL TEST, Read the Material Critically, Increase Formal and Academic Vocabulary. karena perbendaharaan kata yang telah terhafal oleh- ku masih sangatlah kurang. Kemudian mengenai listening aku agak susah untuk mengerti kalimat yang diucapkan apalagi jika harus mendengarkan langsung dari wireless berbentuk lospiker yang suaranya pecah kayak radio. Nampaknya ini merupakan serious trouble yang harus aku hadapi saat ini.

Pada tanggal 5 Mei 2008 ketika aku sedang sarapan dikantin kampus secara tidak sengaja aku membaca salah satu koran lokal dimana pada koran tersebut terdapat informasi mengenai Beasiswa Australian Development Scholarships. Pada Koran tersebut dikatakan bahwa pada tanggal 6 Mei 2008 tepatnya pukul 14.00 WIB akan diadakan sosialisasi mengenai beasiswa tersebut yang rencananya akan dilaksanakan di Aceh Ballroom tepatnya di Hotel Hermes Palace ( dulunya bernama Swiss Bell Hotel ) dibuka untuk umum.. Tentu aku sangat tertarik sekali sehingga aku mengcopy Koran tersebut sebagai bahan peganganku. Aku berniat akan mengahadiri acara tersebut karena inilah yang aku tunggu- tunggu selama ini.

Keesokan harinya, tepatnya pada tanggal 6 Mei 2008 aku mendatangai Hotel Hermes Palace bersama dengan temanku yaitu Farrah Fahdhienie. Setibanya di Hotel Hermes, aku sungguh sangat terkejut melihat banyak sekali orang yang telah berdiri di depan pintu masuk Aceh Ballroom. Ternyata banyak juga peminat beasiswa yang disediakan oleh AusAid tersebut. Bahkan setelah kami tiba, ternyata masih banyak lagi yang berdatangan dibalakang kami untuk mendengarkan informasi mengenai Australian Development Scholarships. Tak lama aku dan Farrah menunggu di depan pintu masuk Aceh Ballroom, ada dua orang wanita keluar dari ruangan Aceh Ballroom dengan membawa Form dan Brosur. Kemudian mereka mempersilahkan kami yang telah menunggu didepan pintu masuk Aceh Ballroom untuk mengambil satu persatu dan mulai masuk ke dalam Aceh Ballroom. Setelah mendapatkan Form dan Brosur, aku dan Farrah langsung menerobos masuk dan duduk dibagian tengah. Tidak lama setelah itu, acara pun dimulai dengan perkenalan terlebih dahulu mengenai Negara Australia. Penjelasan yang diberikan berupa bahasa Inggris dimana banyak sekali peserta yang tidak mengerti dengan apa yang disampaikan, sehingga pada session kedua penjelasannya diganti dengan bahasa Indonesia agar yang hadir dapat mengerti. Banyak sekali peserta yang mengajukan pertanyaan, sampai- sampai pihak penyaji dan penyelenggara agak kewalahan dalam menghadapinya. Yang datang pada acara tersebut banyak dari kalangan mahasiswa, masyarakat umum, siswa SMU dan PNS. Mereka sangat antusias sekali untuk menghadiri acara tersebut yang dilaksanakan oleh AusAid demi mendapatkan informasi sebanyak- banyaknya mengenai Beasiswa Australian Development Scholarships.

Dari persentasi yang disampaikan oleh penyaji, aku dapat mengetahui bahwa beasiswa ADS ini diperuntukkan hanya untuk Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Papua dimana kursi yang disediakan untuk mendapatkan beasiswa ini berkisar antara 200 kursi sampai dengan 300 kursi, itupun belum pasti mungkin hanya 200 kursi saja yang disediakan untuk tahun ini. Beasiswa ADS ini menyediakan 2/ 3 dari kursi yang ada hanya untuk Pegawai Negeri Sipil ( Alias yang sudah PNS ), sedangkan yang 1/ 3 lagi disediakan untuk Umum. Kalau kita lihat perbandingannya, jika ada 300 kursi, maka untuk PNS disediakan 200 kursi dan Umum hanya 100 kursi saja. Sungguh suatu perbedaan yang mencolok dimana lebih banyak disediakan untuk PNS dari pada Umum ( Alias Non – PNS ). Bagiku ini bukan suatu tindakan yang adil, hendaknya harus 50 : 50 ( sabanding ) sehingga pihak manapun akan mendapatkan kesempatan yang sama untuk bersaing secara sehat mendapatkan Beasiswa Australian Development Scholarships yang disediakan oleh AusAid.

Melihat fenomena yang demikian membuat aku menjadi berfikir dua kali untuk mengikuti seleksi penerimanaan Beasiswa ADS dimana aku harus memperebutkan 100 kursi yang tersisa dengan beribu peserta yang mendaftar. Sehingga aku pun merubah strategi dimana selama ini aku selalu terfokus dengan beasiswa yang disediakan keluar negeri sehingga aku melupakan beasiswa yang disediakan didalam negeri dan tidak mencoba memburu beasiswa yang ada didalam negeriku sendiri. Beberapa hari yang lalu aku mendapatkan informasi dari beberapa dosen FKM UNMUHA diantaranya : Pak Purwadi Arifin, SKM, M. Kes dan Pak Fahmi Ichwansyah, MPH, dimana ada disediakan beasiswa untuk anak- anak Aceh yang ingin melanjutkan studi di kantor Gubernur bagian Keistimewaan dan di Kantor Badan Pendidikan dan Latihan ( Alias DIKLAT ). Aku mencoba mencari informasi sebanyak mungkin mengenai beasiswa yang disediakan pada kantor tersebut, namun aku mendapatkan hasil yang nihil dimana tidak ada beasiswa yang disediakan untuk kali ini. Namun aku tidak percaya begitu saja, aku mencoba mendalami pencarianku sehingga aku memperoleh 2 macam informasi penting, dimana yang pertama adalah beasiswa tersebut memang benar ada disediakan oleh pemerintah daerah, tetapi tertutup untuk kalangan orang dalam saja dan tidak dipublikasikan keluar walaupun sasarannya adalah masyarakat umum ( TAHULAH BAGAIMANA BIROKRASI NEGARA KITA…). Sedangkan informasi kedua adalah dana beasiswa pendidikan tersebut akan cair kalau kita sudah diterima di salah satu Universitas Negeri yang ada di Indonesia.

Jujur, Aku sangat ingin melanjutkan studi S2 ke luar negeri, apalagi kalau mendapatkan beasiswa dari AusAid. Namun, sambil memburu beasiswa S2 keluar negeri aku juga tidak lupa memburu beasiswa S2 yang ada di dalam negeri. Namun,susahnya beasiswa S2 didalam negeri harus sudah diterima di University tersebut baru dana beasiswa bisa diberikan dan dicairkan, itupun belum 100 % pasti . Yang menjadi kendalaku saat ini, aku harus memiliki modal terlebih dahulu untuk mengikuti tes di Universitas Negeri. Adapun University didalam negeri yang menjadi incaranku saat ini untuk menyelesaikan Studi Strata 2 adalah Universitas Indonesia di Jakarta dan Universitas Gajah Mada di Yogyakarta. Tanggal 15 Mei 2008 akan dibuka Tes Seleksi Penerimaan Postgraduate di UGM dimana aku harus melewati TPA TEST dan TOEFL TEST dengan Score minimal 500.

Kali ini aku sambung lagi mengenai tulisanku yang pernah aku pending sebelumnya. Kagiatanku hari ini berjalan seperti biasanya yaitu: mengikuti les TOEFL di Lembaga Bahasa Unsyiah. Aku sangat senang sekali dengan material yang diberikan oleh tentor yang mengajar hari ini yaitu Bang Ismunandar dimana aku dan teman- teman sekelasku harus menuliskan Background of History about my Life tanpa mencantumkan nama pada selembar kertas yang dibagikan dalam jangka waktu sesingkat mungkin dan kesemuanya itu harus ditulis dalam English Leaguage. Setelah menyelesaikan tugas dalam jangka waktu yang telah ditentukan, maka lembaran tersebut di random dan dibagikan kembali kepada para siswa sehingga lembaran yang diterima bukan lagi lembaran milik masing- masing. Kemudian Bang Ismunandar, meminta kepada salah satu siswa untuk membacakan tulisan yang ada dihadapannya, sedangkan siswa yang lain mendengarkan dan menyimak dengan seksama. Setelah siswa tersebut selesai membaca Background of History, siswa yang lain dipersilahkan untuk menceritakan kembali dalam English Leaguage mengenai Background of History yang telah mereka simak semuanya, bahkan kami harus menebak siapa pemilik lembaran tersebut. Memang agak lucu sih...ketika harus menceritakan ulang dalam Bahasa Inggris yang Tenses – nya terbalik balik, apalagi dalam pengucapan lafal kata yang selalu meleset dari arti yang dimaksudkan oleh si penulis. Namun menurut aku ini merupakan salah satu metode belajar yang cukup bagus dan agak rileks. Selain melatih kemampuan siswa dalam hal Reading juga bermanfaat untuk melatih kecepatan pendengaran dalam hal Listening. Aku pikir kenapa metode ini tidak diterapkan saja pada setiap sekolah, sehingga siswa dapat lebih gampang dalam menguasai Bahasa Inggris.

Read More......